Bagaimana Hukumnya Menyuap Agar Jadi Pejabat? Simak Penjelasannya Menurut Gus Baha

22 Desember 2021, 08:22 WIB
Hukum menyuap menurut Gus Baha /Tangkapan Layar/ Instagram/ @kajian.gusbaha

MALANG TERKINI – Menjelang pesta demokrasi lima tahunan ini, banyak sekali calon-calon pejabat pemerintah maupun calon presiden sendiri yang mulai berkampanye.

Di antara strategi kampanye yang paling efektif bagi mereka adalah money politic (politik uang). Dengan kekayaannya, mereka membagi-bagikan uang kepada rakyat agar masyarkat memilihnya menjadi pejabat.

Orang awam mengenalnya dengan istilah menyogok. Lalu bagaimana hukumnya money politik atau menyogok ini? Berikut penjelasan Gus Baha mengenai hukumnya.

Baca Juga: Hukum Ziarah Kubur Bagi Wanita Menurut Gus Baha

Dalam literatur fikih, ada istilah ‘hilah’. Hilah adalah mencari celah hukum untuk membenarkan seuatu perbuatan yang asalnya tidak diperbolehkan secara syara’.

Menurut Gus Baha, asalkan orang yang meng-hilah itu orang shaleh maka tidak masalah. Gus Baha mencontohkan soal Pilkada.

Orang yang tidak bakat saleh cenderung menyuap masyarakat agar dirinya menang di Pilkada. Namun beda halnya dengan orang saleh.

Baca Juga: Contoh Puisi Pilihan Hari Ibu Nasional, Cocok Sebagai Hadiah Serta Ucapan Terima Kasih Kepada Ibu

Orang saleh memberi uang kepada masyarakat bukan sebagai suap, tetapi dengan tujuan sedekah atau upaya membeli kebenaran.

Sebab menurutnya, jika pemimpin itu jatuh ke tangan orang fasik maka rakyat akan sengsara. Sehingga ia mau tidak mau harus rela menggelontorkan dana agar dirinya (yang saleh) itu dipilih menjadi pemimpin, demi menyelamatkan rakyat.

Gus Baha sering ditanya seseorang, “Gus, hukumnya lurah menyuap itu gimana?”

Baca Juga: Kisah KH Ahmad Shobari, Ulama dari Ciwedus Kuningan Jabar Saat Nyantri Pada Mbah Kholil Bangkalan

“Menyuap itu haram, tapi lurah yang tidak mengeluarkan duit itu pelit, dan pelit itu juga haram,” jawab Gus Baha.

“Sebab jika shaleh itu nggak bayar (nyuap) ya pasti kalah. Menang yang bayar. Jadi tak omongi, nyuap itu haram, tapi pelit ya haram. Kamu milih mana?” lanjut Gus Baha.

Jadi, menurut Gus Baha, jika orang itu benar-benar saleh maka menyuap itu sebenarnya membeli kebenaran.

Kehebatan kyai-kyai Indonesia, kata Gus Baha, yaitu ketika membaca dan memahami kitab Fathul Muin:

العمارة ولو ببذل المال وجب على الصالح طلبها أي طلب

Artinya: “Wajib bagi orang saleh mengejar jabatan meskipun harus dengan membayar sejumlah uang.”

Menurut Gus Baha, hukum menyuap itu tetap haram, kecuali dilakukan oleh orang yang saleh demi membeli kebenaran. Sebab jika pemimpin dipegang oleh orang yang fasik maka efeknya lebih berbahaya.***

Editor: Gilang Rafiqa Sari

Sumber: Youtube My Daily Life Film

Tags

Terkini

Terpopuler