Pola Asuh dengan Hukuman dan Disiplin Keras Tingkatkan Risiko Penyakit Mental pada Anak

9 April 2023, 04:14 WIB
Ilustrasi. Pola asuh hangat memiliki 83,5 persen risiko rendah anak terkena penyakit mental ///Unsplash/juliane-liebermann

MALANG TERKINI – Pola pengasuhan yang menerapkan disiplin keras dan hukuman pada anak secara signifikan dapat meningkatkan risiko anak memiliki masalah kesehatan mental.

Pola asuh yang sering melibatkan perlakuan dan disiplin yang keras, baik bersifat fisik atau psikologis disebut berpengaruh secara jangka panjang pada kesehatan mental anak. Meskipun semua gaya pengasuhan berbeda, namun pengasuhan yang melibatkan meneriaki anak-anak secara teratur, hukuman fisik rutin, mengisolasi anak-anak ketika mereka berperilaku buruk, merusak harga diri mereka, atau disiplin yang keras menjadi pencetus penyakit mental anak.

Melihat efek disiplin keras pada anak-anak, para peneliti di University of Cambridge dan University College Dublin menganalisis gejala kesehatan mental anak-anak pada usia tiga, lima, dan sembilan tahun, mengamati gejala kesehatan mental seperti kecemasan dan penarikan sosial.

Baca Juga: Kata Ahli: Tetris Tingkatkan Kapasitas Memori, Perkembangan Motorik, dan Obat Stres Pasca Trauma

Anak yang dididik dengan kekerasan akan 1,5 kali lebih besar alami masalah kesehatan mental

Dilansir Malang Terkini dari Open Access Government yang diunggah pada 5 April 2023, penelitian mengungkapkan bahwa anak-anak yang pernah mengalami pola asuh dengan kekerasan atau hukuman, maka 1,5 kali lebih mungkin mengalami gejala kesehatan mental pada usia sembilan tahun.

10 persen anak berisiko tinggi alami kesehatan mental yang buruk

Studi longitudinal yang dilakukan terhadap 7.507 anak di Irlandia, peneliti mengambil data kesehatan mental dengan alat penilaian standar yang disebut Kuesioner Kekuatan dan Kesulitan. Setiap anak diberi skor gabungan, yang berisi 10 gejala eksternalisasi dan internalisasi pada usia tiga, lima, dan sembilan tahun.

Penilaian standar tersebut digunakan untuk mengukur gaya pengasuhan yang dialami anak pada usia tiga tahun, orang tua kemudian dikategorikan berdasarkan seberapa jauh kecenderungan mereka terhadap masing-masing dari ketiga pola pengasuhan, diantaranya:

1. Pengasuhan yang hangat: mendukung dan memperhatikan kebutuhan anak mereka
2. Pengasuhan yang konsisten: menetapkan ekspektasi dan aturan yang jelas
3. Pola asuh yang memberi hukuman: gaya pengasuhan dengan kekerasan

Baca Juga: 16 Negara dan Alasannya Larang Terapkan TikTok, Afganistan Lindungi Kaum Muda dari ‘Penyesatan’

Pengelompokkan anak-anak dengan ketiga pola asuh di atas terhadap gejala kesehatan mental, sebagai berikut:

1. Pola asuh hangat memiliki dampak 83,5 persen risiko rendah terhadap penyakit mental pada anak. Dengan skor gejala internalisasi dan eksternalisasi yang rendah, pada saat anak usia tiga tahun yang kemudian turun atau tetap stabil.

2. Pola asuh konsisten memiliki 6,43 persen risiko ringan terkena sakit mental, dengan skor awal tinggi yang menurun dari waktu ke waktu tetapi tetap lebih tinggi daripada kelompok pertama.

3. Sisanya anak dengan pola asuh kekerasan memiliki 10,07 persen berisiko tinggi terkena gangguan mental, dengan skor awal tinggi yang meningkat pada usia sembilan tahun.

Anak perempuan lebih berisiko tinggi terkena gangguan kesehatan mental

Para peneliti menemukan bahwa faktor lain dapat memengaruhi hasil kesehatan mental anak-anak sebanyak gaya pengasuhan. Bahkan menurut peneliti, anak perempuan lebih cenderung berada dalam kategori berisiko tinggi daripada anak laki-laki.

Baca Juga: Anxiety Parah di Malam Hari? 4 Tips Ini Akan Menenangkan dan Buat Tidur Lebih Nyenyak

Demikian pula, anak-anak dengan orang tua tunggal 1,4 kali lebih mungkin berisiko tinggi. Selain itu, anak-anak dari latar belakang yang lebih kaya cenderung tidak menunjukkan gejala kesehatan mental yang mengkhawatirkan.

Peneliti mencatat bahwa gaya pengasuhan tidak sepenuhnya menentukan hasil kesehatan mental, karena kesehatan mental anak dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko, termasuk jenis kelamin, kesehatan fisik, dan status sosial ekonomi.

Namun, para peneliti menggarisbawahi pentingnya memberikan pendidikan yang hangat dan positif kepada anak-anak, agar terhindar risiko kesehatan mental yang buruk.***

Editor: Niken Astuti Olivia

Tags

Terkini

Terpopuler